Close Klik 2x

Contoh Soal Jenis-Jenis Puisi Baru

Contoh Soal Jenis-Jenis Puisi BaruPuisi adalah salah satu bentuk karya sastra yang tersusun dari bahasa yang indah dan padat makna. Puisi terdiri atas beberapa baris yang disebut dengan bait. Perbedaan puisi dengan karya sastra lainnya, seperti prosa atau drama, adalah bahasa yang digunakan di dalam puisi cenderung berirama dan berbunyi indah, misalnya memiliki persamaan bunyi di setiap akhir baris. Persamaan bunyi di akhir baris tersebut disebut dengan rima.
      Berdasarkan perkembangan sastra Indonesia dari masa ke masa, dikenal beberapa macam puisi. Secara umum, puisi terdiri atas puisi lama, puisi baru, dan puisi kontemporer. Puisi lama adalah puisi yang terikat dengan beragam aturan fisik dan biasanya disebarkan secara lisan. Puisi baru adalah puisi yang memiliki bentuk yang memiliki pola yang lebih fleksibel daripada puisi lama. Adapun puisi kontemporer atau biasa disebut puisi bebas adalah puisi yang tidak terikat dengan aturan apapun.
      Puisi baru dikenal pada masa Pujangga Baru, yaitu suatu periode kesusastraan Indonesia yang dimulai pada tahun 1933. Pada periode ini, beberapa tradisi sastra lama diperbarui, termasuk dalam penulisan puisi. Jika pada periode sebelumnya (dikenal dengan periode Balai Pustaka), puisi masih didominasi puisi lama berupa pantun, mantra, atau gurindam, maka pada periode ini dikenal adanya puisi baru. Puisi baru adalah puisi yang tidak terikat secara ketat terhadap aturan namun masih memperhatikan kaidah-kaidah estetika puisi, seperti rima serta jumlah baris dan bait.
      Berdasarkan bentuknya, jenis-jenis puisi baru adalah sebagai berikut.
1. Distikon, yaitu puisi yang terdiri atas dua baris seuntai. Distikon berima sama atau a-a. Contoh:
Berkali kita gagal
Ulangi lagi dan cari akal
Berkali-kali kita jatuh
Kembali berdiri jangan mengeluh
(Or. Mandank)
2. Terzina, yaitu puisi yang terdiri atas tiga baris seuntai. Terzina berima a-a-a, a-a-b, a-b-c, atau a-b-b. Contoh:
Dalam ribaan bahagia datang
Tersenyum bagai kencana
Mengharum bagai cendana
Dalam bahagia cinta tiba melayang
Bersinar bagai matahari
Mewarna bagaikan sari
(“Madah Kelana”, Sanusi Pane)
3. Kuatren (quatrain), yaitu puisi yang terdiri atas empat baris seuntai. Kuatren berima a-b-a-b, a-a-a-a, atau a-a-b-b. Contoh:
Mendatang-datang jua
Kenangan masa lampau
Menhilang muncul jua
Yang dulu sinau silau
Membayang rupa jua
Adi kanda lama lalu
Membuat hati jua
Layu lipu rindu sendu
(A. M. Daeng Myala)
4. Kuin (quint), yaitu puisi yang terdiri atas lima baris seuntai. Quint berima a-a-a-a-a. Contoh:
Hanya kepada Tuan
Satu-satu perasaan
Hanya dapat saya katakan
Kepada Tuan
Yang pernah merasakan
Satu-satu kegelisahan
Yang saya serahkan
Hanya dapat saya kisahkan
Kepada Tuan
Yang pernah diresahgelisahkan
Satu-satu kenyataan
Yang bisa dirasakan
Hanya dapat saya nyatakan
Kepada Tuan
Yang enggan menerima kenyataan
(Or. Mandank)
5. Sekstet (sextet), yaitu puisi yang terdiri atas enam baris seuntai. Sektet tidak memiliki aturan rima sehingga penyair bebas menentukan bunyi akhir setiap baris puisinya. Contoh:
Merindu bahagia
Jika hari t’lah tengah malam
Angin berhenti dari bernafas
Sukma jiwaku rasa tenggelam
Dalam laut tidak terbatas
Menangis hati diiris sedih
(Ipih)
6. Septima, yaitu puisi yang terdiri atas tujuh baris seuntai. Sama halnya dengan sektet, septima tidak memiliki aturan rima sehingga penyair bebas menentukan bunyi akhir setiap baris puisinya. Contoh:
Indonesia Tumpah Darahku
Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai 
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung gemunung bagus rupanya
Ditimpah air mulia tampaknya
Tumpah darahku Indonesia namanya
(Muhammad Yamin)
7. Oktaf, yaitu puisi yang terdiri atas delapan baris seuntai. Oktaf disebut juga stanza. Sama halnya dengan sektet dan septima, oktaf tidak memiliki aturan rima. Contoh:
Awan
Awan datang melayang perlahan
Serasa bermimpi serasa berangan
Bertambah lama lupa di diri
Bertambah halus akhirnya seri
Dan bentuk menjadi hilang
Dalam langit biru gemilang
Demikian jiwaku lenyap sekarang
Dalam kehidupan teguh tenang
(Sanusi Pane)
8. Soneta, yaitu puisi yang berasal dari Italia. Ciri-ciri soneta adalah sebagai berikut.
  • Terdiri atas 14 baris;
  • Seluruh baris terbagi menjadi 4 bait yang terdiri atas 2 kuatren dan 2 terzina;
  • Dua kuatren (yang menjadi oktaf) disebut dengan sampiran;
  • Dua terzina (yang menjadi sekstet) disebut dengan isi;
  • Bagian sampiran biasanya berupa gambaran alam;
  • Bagian isi biasanya berupa jawaban atau simpulan dari simpulan;
  • Peralihan dari oktaf ke sekstet disebut dengan volta;
  • Baris soneta masih dapat ditambahkan dengan disebut koda;
  • Jumlah suku kata dalam setiap baris antara 9 hingga 14 suku kata;
  • Rima soneta biasanya adalah a-b-b-a, a-b-b-a, c-d-c, d-c-d.
Contoh:
Gembala
Perasaaan siapa tak ‘kan nyala
Melihat anak berlagu dendang
Seorang saja di tengah padang
Tiada berbaju buka kepala
Beginilah nasib anak gembala
Berteduh di bawah kayu nan rindang
Semenjak pagi meninggalkan kandang
Pulang ke rumah di senja kala
Jauh sedikit sesayup sampai
Terdengar olehku bunyi serunai
Melagukan alam nan molek permai
Wahai gembala di segara hijau
Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau
Maulah aku menurutkan dikau
(Muhammad Yamin)
      Selain itu, puisi baru juga dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan isinya. Pembagian tersebut antara lain sebagai berikut.
  1. Balada, yaitu puisi yang berisi tentang kisah yang mengharukan;
  2. Himne, yaitu puisi yang berisi tentang pujaan terhadap Tuhan dan sebagainya;
  3. Ode, yaitu puisi yang berisi tentang pujian seseorang atau sesuatu yang dimuliakan;
  4. Epigram, yaitu puisi yang berisi mengandung pelajaran melalui suatu peristiwa atau sindiran;
  5. Elegi, yaitu puisi yang berisi ratapan atau ungkapan duka cita;
  6. Satire, yaitu puisi yang berisi sindiran atau ejekan terhadap seseorang atau sesuatu.

Poin Penting

  1. Puisi adalah salah satu bentuk karya sastra yang tersusun dari bahasa yang indah dan padat makna;
  2. Puisi baru adalah puisi yang tidak terikat secara ketat terhadap aturan namun masih memperhatikan kaidah-kaidah estetika puisi, seperti rima serta jumlah baris dan bait;
  3. Jenis-jenis puisi baru berdasarkan bentuknya antara lain distikon, terzina, kuatren, kuin, sekstet, septima, oktaf (stanza), dan soneta.

Contoh Soal Jenis-Jenis Puisi Baru


Perhatikan puisi berikut ini!
Berlelah kita berusaha
Akhirnya sampai dituju jua
Berlelah kita berguru darma
Akhir hayat tentu mulia
(Reza S. Nugraha)
Jenis puisi baru di atas adalah ....
Perhatikan puisi berikut ini!
Berdecak burung bernyanyi riang
Meloncat-loncat enggan ‘tuk terbang 
Bergumam tentang padang membentang
Berbisik-bisik lirih nan tenang
Tak lelah menyusur ilalang
Hingga senja tiba menjelang
Sambut gulita bertabur bintang
(Reza S. Nugraha)
Jika melihat pada jumlah barisnya, jenis puisi tersebut adalah ....
1
Andai mata tiada melihat
Tak ‘kan datang tipu muslihat
Hati tenteram hidup selamat (Reza S. Nugraha)
2
Berjalan seorang gembala tua
Dengan gontai langkah kakiknya
Mencari hidup gelimang asa 
Pada ciptaan-Nya berbagi cinta (Reza S. Nugraha)
3
Sesayup fajar yang menghening
Kian sunyi tanpa denting
Saat berpasang-pasang mata
terbuka teramat berat
menikmati akhir dari lelap (Reza S. Nugraha)
4
Anak kecil yang tampak lelah itu
menepi di ujung jentera
menengadah pada surya
dan berkata
aku akan tetap ada
jika kau tak henti bercahaya (Reza S. Nugraha)
5
Aduhai jiwa mana yang tak resah
Menanti lentera segera menyala
Menunggu dalam gelisah
Tak lekang dirundung lelah
Hai pembawa pelita, berlekaslah (Reza S. Nugraha)
Puisi yang termasuk kuatren adalah nomor ....
Perhatikan puisi baru berikut ini!
Dua pertiga malam
Simpuh sajadah bertahta pualam
Hadirat-Mu yang kutunggu 
Berjumpa dalam bisu
Bercakap bahasa kalbu (Reza S. Nugraha)
Berdasarkan isinya, jenis puisi baru tersebut adalah ....
Perhatikan puisi berikut ini!
Jika malam segera pulang
‘Kan kupinta seribu bayang
Yang baru saja hilang
Tak berbekas, kandas ...
Bahkan sekadar cium pamit
Atau getir katamu yang pahit
Hilang raga hilang cinta
Selamat jalan, Adinda. 
(Reza S. Nugraha)
Berdasarkan isinya, jenis puisi tersebut adalah ....
1
Satu satu pergi
Lalu tinggal kau, apa lagi?
Semua buangku bak sampah 
Aku sampah jadi biarlah
Tak ada guna seolah-olah
Padahal aku sampah, berdaurulang
Jadi berharga dan gemilang (Reza S. Nugraha)
2
Semilir angin mengecup pelan
Bertandang tak diundang
Mengayun-ayun dedaunan
Menggoda anak-anak burung cecuitan
Menghantar pesan awang-gemawang (Reza S. Nugraha)
3
Nun, tidurlah di pangkuan
Ceritakan tentang kisah para anak nelayan
Yang setiap senja menghantar ayah-ayah mereka
Ditinggal tidur tanpa dongeng raja laut
Dan mereka akan nyenyak tanpa takut (Reza S. Nugraha)
4
Ada pesan yang masih samar
dari lelangitan malam 
suara-suara yang konon tersiar
menyentuh para hamba yang menyelam
dalam lautan cinta-Nya yang dalam (Reza S. Nugraha)
5
Lembayung yang kautunggu
Bukankah mengantar luka?
Acapkali kau tatap mega
Dan lelangitan jingga
Pulang saja, 
Di sini ada jiwa, menderita tiada kira. (Reza S. Nugraha)
Puisi baru yang termasuk epigram adalah nomor ....
Perhatikan puisi berikut ini!
Biarlah aku menghamba
pada Zat yang tak pernah tiada
hadir-Nya bahkan tak terasa
meski lebih dekat dari aorta 
Biarlah kuucap syukur
pada Zat yang tak pernah tidur
Tak lelah dan memudur
setiap masa terasa jidur
Biarlah kulafal zikir
pada Zat yang tak pernah kikir
melimpah rahmat kian terukir
dalam hayat nan fakir
(Reza S. Nugraha)
Jenis puisi tersebut adalah ....
Perhatikan puisi berikut ini!
Biarlah aku menghamba
pada Zat yang tak pernah tiada
hadir-Nya bahkan tak terasa
meski lebih dekat dari aorta 
Biarlah kuucap syukur
pada Zat yang tak pernah tidur
Tak lelah dan memudur
setiap masa terasa jidur
Biarlah kulafal zikir
pada Zat yang tak pernah kikir
melimpah rahmat kian terukir
dalam hayat nan fakir (Reza S. Nugraha)
Baris yang menunjukkan bahwa puisi tersebut berjenis himne adalah ....
Perhatikan puisi berikut ini!
Adagium Mengawal Hari
Kala fajar muncul dari peraduan
menyingsing timur seraya tersenyum
menebar hangat lembut mencium
nyanyian burung beralunan
menghias angkasa penuh aturan
pepohonan yang berbuah ranum
sesekali jatuh membekas redum
ke dalam sungai bepercikan
Kala itulah hasrat hidup mencuat
penuh asa nan bergelora
sungguhpun ada dirundung cacat
tak putuskan berbagi darma
hidup bersuka penuh manfaat
sedikit harta berlimpah cinta
(Reza S. Nugraha)
Jenis puisi tersebut adalah ....
Perhatikan puisi berikut ini!
Adagium Mengawal Hari
(1) Kala fajar muncul dari peraduan
(2) menyingsing timur seraya tersenyum
(3) menebar hangat lembut mencium
(4) nyanyian burung beralunan
(5) menghias angkasa penuh aturan
(6) pepohonan yang berbuah ranum
(7) sesekali jatuh membekas redum
(8) ke dalam sungai bepercikan
(9) Kala itulah hasrat hidup mencuat
(10) penuh asa nan bergelora
(11) sungguhpun ada dirundung cacat
(12) tak putuskan berbagi darma
(13) hidup bersuka penuh manfaat
(14) sedikit harta berlimpah cinta
(Reza S. Nugraha)
Baris yang termasuk terzina pada puisi tersebut adalah ....

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel